Solarsol.id

PLTS Offshore dan Floating Solar sebagai Solusi Energi Surya untuk Lahan Terbatas di Indonesia

PLTS Rooftop 12 May 2026 5 min read

Floating Solar di Indonesia: Panduan Jujur Sebelum Anda Memutuskan

Semua orang bicara soal potensi floating solar Indonesia.

17.000 pulau. Ratusan waduk. Ribuan kolam tambak. Garis khatulistiwa yang membuat paparan matahari hampir konstan sepanjang tahun. Di atas kertas, tidak ada negara yang lebih ideal.

Tapi dari ratusan proyek yang pernah kami evaluasi, paling banyak 30% yang benar-benar layak dieksekusi. Sisanya gagal di tahap kelayakan — bukan karena teknologinya buruk, tapi karena premis awalnya salah.

Artikel ini bukan promosi floating solar. Ini panduan untuk memutuskan apakah floating solar masuk akal untuk situasi Anda — termasuk kondisi di mana jawabannya adalah tidak.

Mengapa Floating Solar Bukan Sekadar "Panel Surya di Atas Air"

Kesalahan paling umum adalah memperlakukan floating solar seperti instalasi atap yang dipindah ke permukaan air. Secara teknis, perbedaannya fundamental.

Struktur apung bukan komponen biasa. Di instalasi darat atau atap, struktur mounting adalah elemen pasif. Di floating solar, struktur apung adalah komponen aktif yang terus bergerak, menyesuaikan fluktuasi permukaan air, merespons gelombang, dan menahan tekanan angin tanpa tumpuan tetap. Untuk perairan Indonesia yang tropis — dengan hujan ekstrem musiman dan potensi angin kencang — spesifikasi struktur ini bisa memakan 25–35% dari total biaya proyek, jauh lebih tinggi dari instalasi darat konvensional.

Korosivitas lingkungan. Air tawar waduk dan air laut punya profil korosivitas yang sangat berbeda. Proyek di pesisir atau di dekat area tambak membutuhkan material yang berbeda secara signifikan dari proyek di waduk daratan. Pilihan material yang salah tidak akan langsung terlihat — kerusakannya baru muncul di tahun ketiga atau keempat, saat garansi sudah tidak relevan.

Kabel bawah air. Routing kabel dari array apung ke inverter dan titik grid membutuhkan kabel berselubung khusus dan metode instalasi yang berbeda dari instalasi darat. Ini sering kali menjadi komponen yang paling diremehkan dalam estimasi biaya awal.

Tiga Kondisi di Mana Floating Solar Benar-benar Masuk Akal

1. Anda Punya Badan Air dengan Izin yang Sudah Jelas

Ini hambatan terbesar yang jarang dibicarakan secara terbuka.

Badan air di Indonesia hampir selalu memiliki pengelola — apakah itu BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai), PT Indonesia Power untuk waduk PLTA, atau pemerintah daerah untuk waduk irigasi. Proses perizinan penggunaan badan air untuk instalasi energi bisa memakan waktu 12–24 bulan, dan tidak selalu berhasil.

Jika Anda sudah memiliki akses pengelolaan atau kepemilikan atas badan air — kolam pabrik, kolam tambak milik sendiri, atau sudah ada MoU dengan pengelola waduk — hambatan terbesar ini sudah terlewati. Ini yang membuat floating solar di kolam pengolahan limbah industri jauh lebih mudah dieksekusi daripada proyek di waduk publik.

2. Lahan di Sekitar Badan Air Terlalu Mahal atau Tidak Tersedia

Untuk kawasan industri di Jawa, harga lahan industri bisa mencapai Rp 2–5 juta per meter persegi. Jika proyek membutuhkan 1 hektar untuk instalasi 1 MWp, biaya lahan saja sudah Rp 20–50 miliar — sebelum satu panel pun dipasang.

Dalam konteks ini, floating solar yang memanfaatkan badan air yang sudah ada bisa menjadi pilihan yang lebih ekonomis secara total, meski biaya instalasi per-watt-nya lebih tinggi dari darat.

3. Kebutuhan Daya dan Sumber Air Berada di Lokasi yang Sama

Salah satu keunggulan floating solar yang sering diabaikan adalah efek penguapan. Floating solar dapat mengurangi penguapan permukaan waduk hingga 70% berdasarkan beberapa studi lapangan di Asia Selatan. Untuk industri yang bergantung pada cadangan air — pabrik tekstil, pengolahan pangan, atau pertanian intensif — ini bukan manfaat kecil.

Jika Anda mengelola kolam air sekaligus membutuhkan listrik, floating solar menawarkan dua manfaat dari satu investasi.

Kondisi di Mana Floating Solar Hampir Pasti Bukan Pilihan Terbaik

  1. Perairan dengan fluktuasi muka air tinggi. Waduk di Indonesia mengalami fluktuasi muka air yang signifikan antara musim hujan dan kemarau — kadang lebih dari 10 meter. Desain sistem apung untuk fluktuasi sebesar ini membutuhkan sistem mooring yang kompleks dan mahal. Jika tidak dirancang dengan benar, array bisa bergeser, kabel bisa tertarik berlebihan, atau struktur bisa miring saat muka air turun drastis.
  2. Perairan dengan tanaman air agresif. Eceng gondok dan tanaman air lain yang tumbuh cepat bisa mengganggu sistem mooring dan menempel pada struktur apung, menambah beban yang tidak diperhitungkan dalam desain awal. Ini masalah operasional nyata di banyak waduk Indonesia yang sering tidak muncul dalam studi kelayakan awal.
  3. Proyek di bawah 500 kWp. Kompleksitas engineering dan perizinan floating solar membuat proyek skala kecil sulit mencapai keekonomian yang memadai. Untuk kebutuhan di bawah 500 kWp, instalasi atap atau ground-mounted di lahan kosong hampir selalu lebih hemat.

Angka yang Perlu Anda Ketahui Sebelum Mulai

Berikut adalah rentang biaya realistis berdasarkan kondisi pasar Indonesia saat ini. Ini bukan angka marketing — ini estimasi yang mencerminkan variabilitas nyata di lapangan.

  1. Panel surya dan inverter: 40–50% dari total proyek
  2. Struktur apung dan mooring: 25–35% dari total proyek
  3. Kabel, instalasi, dan komisioning: 10–15% dari total proyek
  4. Perizinan dan engineering: 5–10% dari total proyek

Biaya total per watt-peak untuk floating solar di Indonesia saat ini berkisar antara Rp 12.000–18.000/Wp, dibandingkan Rp 8.000–12.000/Wp untuk ground-mounted di lahan datar. Premium ini bisa dijustifikasi jika nilai lahan atau ketersediaan lahan memang menjadi kendala nyata.

Payback period realistis untuk proyek floating solar skala industri di Indonesia adalah 7–12 tahun, tergantung tarif listrik yang berlaku, skema net metering, dan biaya operasional di lokasi spesifik.

Lima Pertanyaan yang Harus Dijawab Sebelum Studi Kelayakan

Sebelum mengeluarkan biaya untuk studi kelayakan penuh, jawab dulu pertanyaan berikut:

  1. Siapa pengelola badan air yang akan digunakan, dan apakah ada preseden izin serupa di wilayah tersebut?
  2. Berapa fluktuasi muka air rata-rata antara musim hujan dan kemarau dalam 5 tahun terakhir?
  3. Apakah ada titik koneksi grid yang feasible dalam radius 2 km dari lokasi?
  4. Berapa harga lahan alternatif di sekitar lokasi, sebagai pembanding ekonomi?
  5. Apakah proyek ini bisa mencapai minimal 1 MWp untuk membenarkan kompleksitas engineering-nya?

Jika lima pertanyaan ini belum memiliki jawaban yang jelas, studi kelayakan penuh belum saatnya dilakukan.

Penutup

Floating solar adalah teknologi yang nyata dan sudah terbukti — di Cirata dengan kapasitas 92 MWp sebagai yang terbesar di Asia Tenggara, di berbagai kolam industri di Jawa, dan di puluhan instalasi skala lebih kecil di seluruh Indonesia.

Tapi seperti semua keputusan investasi energi yang serius, relevansinya sangat tergantung pada kondisi spesifik proyek Anda — bukan pada potensi nasional yang sering dikutip dalam presentasi.

Jika Anda sedang dalam tahap evaluasi awal dan ingin mendiskusikan apakah kondisi proyek Anda memenuhi kriteria kelayakan floating solar, kami terbuka untuk percakapan teknis yang jujur.

FAQ

Apa perbedaan utama antara PLTS offshore dan floating solar?

PLTS offshore umumnya mengacu pada instalasi panel surya yang dipasang di laut terbuka, seringkali di lepas pantai dengan kedalaman yang signifikan. Sedangkan floating solar biasanya dipasang di perairan daratan seperti waduk, danau, atau sungai dengan kedalaman yang relatif dangkal serta lebih terkendali.

Chat WhatsApp